Awan Dipenghujung Malam



Lihatlah, wahai kekasih yang telah memeluk sebagian hatiku ke dalam senyummu... Awan yang tak hitam juga tak putih, berarak tipis dan meluncur di bibir-bibir tipis tanpa cela...

Sekian tahun yg lalu, tatapanmu masih saja sama seperti saat ini... Sentuh sisi lain hatiku, membawa aku terbang bersama lamunan-lamunan panjang tentang aku, kamu dan buah hati kita...

Penantian dibias arti kata cinta, terbalas anggukan dan janji berjalan seirama... Sungguh kau adalah sejuknya hujan dikota hujan, kau bawa mimpiku yang lalu ke alam nyata...

Terpejam tak berarti memasung fikiran, aku yg selalu berharap kau akan selalu disampingku....

"genggam tanganku disaat aku rapuh dan terjatuh", sungguh...aku cinta padamu wahai butir-butir air hujan... diujung-ujung daun dan jendela hatiku....cinta aku cinta kamu cinta

Tak Utuh





Malam ini mungkin coba menjawab semua tanya dalam hati disaat langkahku terhenti karena angin yang telah lama menahan sebagian angan-anganku berhenti berhemus dan tidak lagi menyejukkan....

Di titik ini aku tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah, di sudut ini aku cuma bisa menunduk ratapi suratan hidup penuh getir, ragu, penghianatan dan janji penuh dusta...

Diantara sisa-sisa tenagaku, aku terhempas saat aku tau tak ada lagi apa yang dapat aku pertanyakan, lalu kupatahkan dahan yang selama ini menuntunku agar tidak terjatuh...

Biarlah debu yang terbang menempel lekat diwajahku, biarkan duri dan pecahan-pecahan kaca masa ini merobek telapak kakiku...tak percaya namun sungguh nyata, genggaman itu tak sekuat dugaanku, hingga hati dicampakkan kisah diantara sakit dan sesak nafas...

Lihatlah, aku mungkin tak bisa temukan lagi hati yang utuh... untuk kau sang penawar segala rasa sakitku, atau mungkin tak akan ada lagi gelombang yang mampu menguji janji-janji saat terbenam matahari... Sampai disuatu waktu, dikala nanti aku terbaring... lalu mati....

Jingga

Setelah semalam hingga fajar pagi ini aku berfikir tentang warna langit yang sering kita pandangi....

Setelah jauh kaki ini melangkah untuk buktikan bahwa ternyata aku punya hati yang masih pantas diperjuangkan...

Setelah habis air mata dan hayalku dikota ini.....kota yang jauh dari harummu....

Setelah lelah aku mencari, lalu terpejam, ternyata tak kuasa aku pungkiri.......

"Aku tidak pernah bisa jauh darimu"

Bintang

Ingin kupeluk lenganmu disaat emosi semakin membakar hati....lalu akan kutatap matamu dalam-dalam saat aku tak sanggup ucapkan sepatah katapun...
Ingin Aku sandarkan kepalaku dipundakmu saat kutemukan batu dari kehidupan lamaku....

Genggaman lemah seolah tertusuk-tusuk amarah....kini tarikan nafasku semakin ϑαlαm saat aku tak mampu lagi menekan dada.....Seperti ini..... Mungkin memang ini yang aku harus aku lalui, aku..... Sendiri, ϑαπ kembali kemasa-masa gelapku....mungkinkah kau terima aku

Andai kau tau bagaimana caraku mencintaimu, wahai bintang yang terbitkan pelangi di sebagian hati kusam penuh celah.... Aku cinta kepadamu

Malam ini dan malam kemarin


Angin berhenti bertiup
Sesak begitu menyiksa batinku
Disaat tak mungkin kutemukan tatap mata yang lain, lalu mengapa aku ditinggal sendiri...

Mungkin takdirku untuk selalu tak kuasa menatap cahaya...
Mungkin suratan, lidahku kelu ϑαπ hanya bisa meratap
Mungkinkah cukup sampai disini,....
Atau mungkin semua berawal ϑαri sini

Entahlah...... Tiba-tiba Janji ϑαπ cita-cita kandas begitu saja lalu semua kembali tak tersentuh....
Seharusnya getir dapat dinikmati bersama
Namun sungguh tak selamanya tanganku sanggup menggenggam rembulan

Tak mungkin kupadamkan 'kau' satu-satunya lilin yang menerangi malam-malamku..... "Malam ini ϑαπ malam kemarin" tapi lihatlah mata kita telah menjadi buta... Namun hanya Sesaat semoga bukan untuk selamanya....

Rasanya bαrų kemarin, spertinya bαrų sesaat yang lalu nafasmu ϑαπ detak jantungku terbaring ϑαlαm satu sisi untaian kenangan ϑαπ ribuan senyum kegelisahan.... Rindu bertemu kerinduan...

Disaat keraguan mulai terdengar sumbang
Ketika kalimat demi kalimat meluncur deras ϑαπ terus menikam jantungku yang mulai kau hinggapi semua Чăπğ terburuk dariku, aku mungkin takkan pernah pantas untuk mendapatkan apa-apa....walau begitu berat ϑαπ keras kubuktikan perasaan ini..... Sia-sia

Seperti pasir pantai yang berukir namamu... Seperti kerang-kerang laut yang kurangkai dengan penuh harapan,...meski mungkin hanya ϑαlαm mimpi, lalu semua itu akan meninggalkanku...

Bahkan tak mungkin lagi semua dibuktikan.... Karena tak pantas lagi diperjuangkan, biarkan aku sendiri.... Sampai waktu berada disisiku ϑαπ buktikan, betapa tulus cahaya rembulan terangi sisi lain hati yang gundah... Saat itu ϑαπ sampai saat malam-malam tếrakhïr kita Berbicara.....

Ketika bunga masih menjadi bagian ϑαri matahari..... Ketika jarimu ϑαπ jariku coba menggapai yang tertinggi, semoga semua itu berarti..... Tidak hanya "seperti malam ini ϑαπ malam kemarin", yang membuatku terbaring... Θαπ tak lagi bisa berfikir apa-apa....

Entahlah, Mα'αfkan aku.... Aku cinta padamu namun biarkan aku tenggelam ϑαπ menghilang bersama semua kegelisahan ini....

Waktu



















Saat itu belum genap 30hari, belum sempurna rembulan menata diri untuk siapkan hati disaat mungkin ragamu ϑαπ jiwaku takkan pernah bersatu lagi..... Fikiranku tentang harum ϑαπ sensasi tatapan mata itu seakan tak mungkin kupungkiri bahwa ternyata "cinta itu tercipta ϑαri darahku ϑαπ hembusan nafasmu...."

Bersandar sambil menjaring mimpi, melihat angkasa kosong namun tetap "kadang aku tak bisa habiskan waktuku sendiri", JAƝGAƝ semua disudahi.... JAƝGAƝ ambil separuh nyawa terakhirku, aku, dia, meraka ϑαπ kamu sama2 berhenti di satu titik, dimana kenangan ϑαπ bias-bias harum terus membekas ϑαπ berharap........ Walau sore ini turun hujan., walau separuh malam tak lagi menjadi milik kita, maka salahkan aku dengan semua perasaanku ini....

Kekal namun selalu timbul pertanyaan, sakit namun tak mungkin kuhentikan semua kegilaan ini, diantara daun.... Diantara malam ϑαπ pagi Hαri... Diantara hening ϑαπ desahan, diantara rindu ϑαπ ragu yang masih memaksa aku untuk tetap disini, lalu semua itu jatuh tepat dijantungku.....terbenam bersama gelak tawa, lalu hilang, tanpa sempat terdengar kata cinta ϑαri bibir Чăπğ kurindukan.... "Aku cinta kamu ϑαπ waktu-waktu saat kita bersama....".

JAƝGAƝ pernah pergi dariku

Tak Tersentuh



















Terlihat namun tak tersentuh

Sambil menunggu jawaban, ketika gula sudah terlanjur bercampur kedalam dua cangkir Kopi panas malam itu, Tidak ada lagi yang dapat kuhirup dan hembuskan karena kabarnyapun mentah kudapatkan, Sampai degup jantung ini tak lagi senada dengan hembusan nafasmu, Meringkuk tertusuk dingin karena hati semakin terkontaminasi oleh cerita tentang mata yang sulit terpejam


Tergeletak, membuka bahu dan lengan namun tidak berarti memasung fikiran..., Kabut turun dari lereng-lereng bukit kerinduan lalu berkelana demi mencari berita, sampai diantara riak-riak pelangi, mentari mulai mencair....angin telah membeku....desahan tak lagi terdengar, sampai akhirnya aku yang akan menghilang, demi waktu yang kuhabiskan tanpa sia-sia, demi genggaman yang mungkin memang telah terlepas...demi semua ini, bacalah....andai kau merasakan apa yang aku rasakan, tetaplah tegar, tetaplah bersamaku.... jangan terpejam


Terbungkus rapi, namun tersirat dahan itu masih tertunduk ke arahku lalu tercium aroma yang sangat aku kenal, walau tercemar warna kelabu dan hitam dini hari itu, namun aku yakin kamu tau maksud tulisanku..., tentang semua ini lalu tentang cerita betapa sunyi telah menyayat pada dinding bayangan maya'ku, namun jangan diratapi, sungguh...selembar daun itu lebih kuat dari apa yang kita bayangkan, mungkin sudah suratan burung-burung terbang ke utara, demi manangkis kutukan dari sang peri pagi hari


Maafkan bila duri-duri mawarku telah robek telapak tanganmu lalu terkoyak, lupakan mengapa riwayat berakhir, namun jangan abaikan lentera yang selalu tepati janjinya pada setap senja itu, tiga jam menunggu kisah tragis demi membuktikan, tak selamanya ribuan bintang berkedip lalu berpijar.....aku, seperti menatap dari ketinggian, seperti saat bumi berhenti berguncang dan seperti terbangun dari mimpi yang panjang, seperti itulah yang disampaikan embun yang menetes tanpa buktikan apa-apa,...


Bagaimana dengan janji esok hari...?

Mungkin hanya akan ada kegilaan, atau mungkin memang sudah dilupakan, biarkan, biar waktu yang menjawab, mengapa terlalu dalam guratan-guratan ini terukir...


Tak tersentuh